Pro dan Kontra Perayaan Natal_Bagian 5


Lanjutan dari bagian 4


Bagian 5

6)      Adanya hal-hal yang dianggap salah yang menyertai Natal.


a)   Kata ‘Christmas' itu sendiri.

Kata itu dikatakan berasal dari kata ‘Christ’s Mass’ (= Misa Kristus), dan karena itu orang-orang Protestan yang anti Natal mengatakan bahwa asal usul Natal adalah gabungan dari kekafiran / penyembahan berhala dan Katolik.

Tanggapan saya:
Kalau yang berasal usul dari kafir saja boleh digunakan selama kekafirannya disaring, apalagi yang berasal usul dari Katolik.
Juga kalau hanya persoalan nama, bagi kita yang tinggal di Indonesia gampang saja. Kita pakai saja istilah ‘Natal’, bukan ‘Christmas’. ‘Natal’ berasal dari bahasa Portugis (Encyclopedia Britannica 2000) dan artinya ‘dilahirkan’ atau ‘berkenaan dengan kelahiran’ [Webster’s New World Dictionary (College Edition)].



b)   Pohon Natal.

Internet:
  • “Ide untuk menggunakan pohon Natal juga masuk ke Inggris dari kepercayaan orang-orang Eropa sebelum mereka menjadi Kristen. Suku bangsa Celtic dan Teutonic menghormati pohon-pohon ini pada perayaan musim dingin sebagai simbol kehidupan kekal. Pohon ini disembah sebagai janji akan kembalinya sang matahari … Beberapa orang terpelajar mengangkat pohon ini, yang merupakan lambang kehidupan bagi para penyembah berhala, menjadi lambang Juru Selamat dan dengan demikian menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan perayaan hari kelahiranNya”. 
  • “Tetapi jika Alkitab diam mengenai perayaan Natal, sesungguhnya Alkitab TIDAK DIAM mengenai adat kebiasaan bangsa kafir dalam mendirikan sebuah pohon – adat kebiasaan yang sama YANG TELAH MENJADI POHON NATAL! Hal ini akan mengejutkan banyak orang. Tetapi ini dia: Dengarlah firman yang disampaikan TUHAN kepadamu, hai kaum Israel! Beginilah firman TUHAN: ‘Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan. Bukankah berhala itu pohon kayu yang ditebang orang di hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu? Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu, supaya jangan goyang. Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun, tidak dapat berbicara; orang harus mengangkatnya, sebab tidak dapat melangkah. Janganlah takut kepadanya …’ (Yeremia 10:1-5)”.
  • “Kita MENGIRA bahwa pohon Natal melambangkan hidup kekal dari Kristus”.

Tanggapan saya:

1.   Penggunaan ayat yang menunjuk kepada berhala (Yeremia 10:1-5) dan lalu diarahkan kepada pohon Natal, jelas merupakan suatu pengawuran. Kata-kata ‘adat kebiasaan yang sama’ yang saya garis bawahi, merupakan suatu tuduhan konyol dan bodoh!

2.   Entah dari mana penulis internet itu mengatakan bahwa pohon Natal merupakan simbol dari Juruselamat. Saya sendiri tak pernah mendengar hal itu, dan tak pernah menganggapnya demikian.

3.   Apakah pohon Natal berasal dari kekafiran?
Memang ada kemungkinan bahwa asal usul pohon Natal berbau kekafiran. Tetapi Encyclopedia Britannica membedakan pohon Natal kuno dan yang modern. Pohon Natal modern dikatakannya berasal dari Jerman Barat, dan tidak berurusan dengan penyembahan berhala atau kekafiran, tetapi berhubungan dengan pohon di Taman Eden, dan digunakan pada tanggal 24 Desember, yang merupakan hari raya untuk memperingati Adam dan Hawa. Penggunaan pohon yang terus menerus hijau  / tidak terpengaruh oleh musim dingin, seperti cemara, dimaksudkan sebagai simbol dari kehidupan yang kekal. Kalau ini benar, maka pohon Natal modern tidak bersumber pada kekafiran / penyembahan berhala.

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Christmas tree’:
“an evergreen, usually a balsam or douglas fir, decorated with lights and ornaments as a part of Christmas festivities. The use of evergreen trees, wreaths, and garlands as a symbol of eternal life was an ancient custom of the Egyptians, Chinese, and Hebrews. Tree worship, common among the pagan Europeans, survived after their conversion to Christianity in the Scandinavian customs of decorating the house and barn with evergreens at the New Year to scare away the devil and of setting up a tree for the birds during Christmastime; it survived further in the custom, also observed in Germany, of placing a Yule tree at an entrance or inside the house in the midwinter holidays. The modern Christmas tree, though, originated in western Germany. The main prop of a popular medieval play about Adam and Eve was a fir tree hung with apples (paradise tree) representing the Garden of Eden. The Germans set up a paradise tree in their homes on December 24, the religious feast day of Adam and Eve. They hung wafers on it (symbolizing the host, the Christian sign of redemption); in a later tradition, the wafers were replaced by cookies of various shapes. Candles, too, were often added as the symbol of Christ. In the same room, during the Christmas season, was the Christmas pyramid, a triangular construction of wood, with shelves to hold Christmas figurines, decorated with evergreens, candles, and a star. By the 16th century, the Christmas pyramid and paradise tree had merged, becoming the Christmas tree. The custom was widespread among the German Lutherans by the 18th century, but it was not until the following century that the Christmas tree became a deep-rooted German tradition. Introduced into England in the early 19th century, the Christmas tree was popularized in the mid-19th century by the German Prince Albert, husband of Queen Victoria. The Victorian tree was decorated with candles, candies, and fancy cakes hung from the branches by ribbon and by paper chains. Brought to North America by German settlers as early as the 17th century, Christmas trees were the height of fashion by the 19th century. They were also popular in Austria, Switzerland, Poland, and The Netherlands. In China and Japan, Christmas trees, introduced by western missionaries in the 19th and 20th centuries, were decorated with intricate paper designs”.

Saya hanya menterjemahkan bagian yang saya garis bawahi, yang adalah sebagai berikut: “Tetapi Pohon Natal modern, berasal usul dari Jerman Barat. Alat / barang utama yang diperlukan di panggung dari suatu sandiwara populer abad pertengahan tentang Adam dan Hawa adalah suatu pohon semacam cemara yang digantungi buah-buah apel (pohon Firdaus) menggambarkan Taman Eden. Orang-orang Jerman mendirikan / memasang suatu pohon Firdaus di rumah mereka pada tanggal 24 Desember, hari raya agamawi dari Adam dan Hawa”.


4.   Memang saya sendiri berpendapat bahwa ada hal-hal yang negatif tentang pohon Natal, yaitu:

a.   Hiasan Santa Claus. Ini menurut saya harus dibuang.

b.   Hiasan yang tidak sesuai dengan fakta.
Dengan memberikan salju-saljuan, maka itu menunjukkan bahwa seolah-olah Natal terjadi pada musim dingin. Padahal boleh dikatakan tidak mungkin bahwa Natal terjadi pada musim dingin, mengingat bahwa para gembala berada di luar / di padang pada malam hari, pada saat mereka mendapat berita Natal dari malaikat-malaikat.

Lukas 2:8-11 - “(8) Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. (9) Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. (10) Lalu kata malaikat itu kepada mereka: ‘Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: (11) Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud”.

Jadi mungkin hiasan salju-saljuan itu harus dibuang, untuk lebih menyesuaikan dengan fakta. Juga lagu seperti ‘White Christmas’.

c.   Penekanan yang saya anggap berlebihan terhadap pohon Natal.
Mengapa saya katakan berlebihan? Karena bagi banyak orang, pohon Natal menjadi sesuatu yang mutlak harus ada. Kalau tidak ada pohon Natal, maka seolah-olah itu bukan Natal. Dengan demikian bagi banyak orang kristen, pohon Natal menjadi hakekat dari Natal, padahal sebetulnya, kalau mau berbicara secara strict / ketat, maka Natal sama sekali tidak berurusan dengan pohon Natal.
Apa bahayanya kalau pohon Natal itu menjadi terlalu penting? Semua hal dalam kekristenan yang menjadi terlalu penting, bisa menggeser apa yang seharusnya merupakan hal terpenting dalam Natal, yaitu Yesus Kristus sendiri.

Earl Riney: “The Christmas tree has taken the place of the altar in too much of our modern Christmas observance” (= Pohon Natal telah mengambil tempat di altar dalam terlalu banyak dari perayaan Natal modern kita) - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 113-114.

Illustrasi: round girl (gadis yang membawa papan penunjuk ronde dalam pertandingan tinju) yang terlalu cantik dan sexy menyebabkan penonton tidak memperhatikan papan bertuliskan ronde ke berapa yang sedang ia bawakan. Demikian juga kalau pohon Natal terlalu ditonjolkan itu bisa menyebabkan orang-orang tidak lagi melihat kepada Kristus, tetapi kepada pohon Natal itu.

Saya tidak mengharuskan untuk membuang pohon Natal secara total; itu rasanya tidak mungkin. Tetapi setidaknya kita harus mengurangi penekanan yang berlebihan pada pohon Natal ini, supaya jangan pohon Natal, yang sebetulnya tidak ada hubungannya dengan Natal, mengaburkan / menggeser fokus yang sebenarnya dari Natal.



c)   Santa Claus / Sinterklaas.

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Santa Claus’:
“legendary figure who is the traditional patron of Christmas in the United States and other countries. His popular image is based on traditions associated with a 4th-century Christian saint. See Nicholas, Saint”.

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Nicholas, Saint’:
“Nicholas’ existence is not attested by any historical document, so nothing certain is known of his life except that he was probably bishop of Myra in the 4th century. According to tradition, he was born in the ancient Lycian seaport city of Patara, and, when young, he traveled to Palestine and Egypt. He became bishop of Myra soon after returning to Lycia. He was imprisoned during the Roman emperor Diocletian’s persecution of Christians but was released under the rule of Emperor Constantine the Great and attended the first Council (325) of Nicaea. After his death he was buried in his church at Myra, and by the 6th century his shrine there had become well known. In 1087 Italian sailors or merchants stole his alleged remains from Myra and took them to Bari, Italy; this removal greatly increased the saint’s popularity in Europe, and Bari became one of the most crowded of all pilgrimage centres. Nicholas’ relics remain enshrined in the 11th-century basilica of San Nicola, Bari. Nicholas’ reputation for generosity and kindness gave rise to legends of miracles he performed for the poor and unhappy. He was reputed to have given marriage dowries of gold to three girls whom poverty would otherwise have forced into lives of prostitution, and he restored to life three children who had been chopped up by a butcher and put in a brine tub. In the Middle Ages, devotion to Nicholas extended to all parts of Europe. He became the patron saint of Russia and Greece; of charitable fraternities and guilds; of children, sailors, unmarried girls, merchants, and pawnbrokers; and of such cities as Fribourg, Switz., and Moscow. Thousands of European churches were dedicated to him, one as early as the 6th century, built by the Roman emperor Justinian I, at Constantinople (now Istanbul). Nicholas’ miracles were a favourite subject for medieval artists and liturgical plays, and his traditional feast day was the occasion for the ceremonies of the Boy Bishop, a widespread European custom in which a boy was elected bishop and reigned until Holy Innocents’ Day (December 28). After the Reformation, Nicholas’ cult disappeared in all the Protestant countries of Europe except Holland, where his legend persisted as Sinterklaas (a Dutch variant of the name Saint Nicholas). Dutch colonists took this tradition with them to New Amsterdam (now New York City) in the American colonies in the 17th century. Sinterklaas was adopted by the country’s English-speaking majority under the name Santa Claus, and his legend of a kindly old man was united with old Nordic folktales of a magician who punished naughty children and rewarded good children with presents. The resulting image of Santa Claus in the United States crystallized in the 19th century, and he has ever since remained the patron of the gift-giving festival of Christmas. Under various guises Saint Nicholas was transformed into a similar benevolent, gift-giving figure in The Netherlands, Belgium, and other northern European countries. In the United Kingdom Santa Claus is known as Father Christmas”.

Dari kata-kata Encyclopedia Britannica 2000 di atas bisa didapatkan bahwa nama ‘Santa Claus’ berasal dari St. Nicholas, yang keberadaannya tidak dibuktikan oleh dokumen sejarah manapun. Jadi tidak ada yang pasti yang kita ketahui tentang hidupnya. Yang diketahui tentang dia berasal dari tradisi. Mungkin ia menjadi uskup di kota Myra pada abad ke 4 M. Ia dipenjara pada masa pemerintahan kaisar Diocletian, tetapi lalu dibebaskan pada masa pemerintahan kaisar Konstantine yang Agung, dan menghadiri Sidang Gereja Nicea (tahun 325 M.). Setelah kematiannya ia dikuburkan di Myra, dan pada tahun 1087 M. seseorang mencuri jenazahnya dan membawanya ke Bari, Italia. Ini menjadikan dia populer di Eropah dan Bari menjadi tempat yang dipenuhi oleh orang-orang yang berziarah. Reputasi Nicholas berkenaan dengan kedermawanan dan kebaikannya menyebabkan munculnya dongeng-dongeng berkenaan dengan mujijat-mujijat yang dilakukannya terhadap orang-orang yang miskin / tidak bahagia, bahkan mujijat kebangkitan orang mati. Di Belanda, variasi dari Santa Claus ini adalah Sinterklaas, yang ceritanya lebih berbau takhyul dan dongeng.

Dari semua ini kita bisa melihat bahwa ini jelas-jelas merupakan sesuatu yang salah, karena bukan hanya tidak ada urusannya sama sekali dengan Natal, tetapi bahkan bersifat dusta / takhyul. Karena itu Santa Claus / Sinterklaas, baik gambarnya, patung / bonekanya, beserta lagu-lagunya, harus disingkirkan. Celakanya, mungkin separuh lagu-lagu Natal berbahasa Inggris berhubungan dengan Santa Claus!


Bersambung ke bagian 6


Sumber : Golgotha Ministry, Bolehkah Merayakan Natal? oleh Pdt. Budi Asali, M. Div. 

Daftar isi, posting bagian 5

Macam-macam alasan untuk menentang Natal dan jawabannya


6) Adanya hal-hal yang dianggap salah yang menyertai Natal

    a) Kata ‘Christmas’

    b) Pohon Natal

    c) Santa Claus / Sinterklaas



Tidak ada komentar:

Posting Komentar